Berbicara tentang pergerakan, lumayan berat. Mungkin back ground saya yang kurang mendukung tentang ini :D, but its okey i wanna try. Sekitar 2 tahun yang lalu, kaki tergerak untuk menyelami dunia pergerakan, mulai dari blank, saya menyebutnya ngeblank group. Ya, ada sisi menarik disana, temukan suasana baru kharisma baru tentang Syumulatul Islam . Syumulatul Islam, konsep pemikiran yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, kalau dulu Ustadz saya di Solo, menyebutnya memang aturan islam itu menyeluruh mulai dari bangun tidur ampe mau tidur sudah diatur, begitu kata beliau.
Yup, Islam memang syumul. Dan setahun yang lalu, syumul dalam pikiran saya mulai terdefinisi pengertian baru yakni Islam mengatur segala sendi kehidupan ummat mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya dan hingga untuk mengatur pemerintahan. Islam yang syumul, islam yang logis dan Islam yang fleksibel. Sehingga yang disebut akivitas religius, bukan hanya saat kita sholat, puasa, i’tikaf, tadarus dan amalan-amalan ma’dhoh lainnya. Tetapi dalam membentuk peradaban, membentuk sistem pemerintahan, dan membentuk agenda kegiatan, Nilai-nilai Islam harus teraplikasi disana.

Nah, sehingga untuk kegiatan mahasiswa yang sangat banyak, dan bisa dikatakan bukan event-event yang kecil. Akan mempunyai nilai andil yang besar dalam mengaplikasikan dan menyublimkan ide pemikiran besar nilai-nilai Islam.
Percaya tidak, gara-gara dulu saya mengikuti acara ” Training ” yang disana panitianya ikhwan dan akhwat semua, saya kembali menemukan komunitas yang sama dengan komunitas saya di Solo dulu. Yang ada adalah rasa bangga dan senag bisa berkumpul dengan mereka. Boleh jadi itulah yang membuat temen-temen pergerakan semakin kuat langkahnya untuk bergerak di jalan penerapan aplikasi nilai-nilai Islam ini.

Pertanyaan saya kemudian muncul apa yang mendasari pergerakan ini tetap ada?. Sekedar jargon, atau sebuah agenda yang memang diagendakan bersama. Tak lama ini pertanyaan saya terjawab, Pergerakan dakwah kampus yang idealis tapi realitas. Bergerak bersama tuntaskan perubahan. Memulainya tidak mudah, melaksanakannya tidak mudah dan bahkan untuk mengakhirinya sangat tidak mudah.

Aksi, mungkin itu yang terbersit di mata masyarakat sebagai bentuk representasi mahasiswa terhadap permasalahan yang terjadi pada rakyat dan bangsa ini. Sejak gulinnya rezim Soeharto, pemuda lebih mengetahui eksensi perannya dalam ranah ” pemantau ” keadaan politik yang terjadi pada pemerintahannya.. Dirasakan pula, sekarang ini aksi-aksi tadi hanya bersifat “foya-foya” dan kesenangan akan “dunia hiburan” dan parahnya ada sebagian yang melakukannya sebagai “rasa berekspresi” bisa jungkir balik kesankemari.

Seperti dilansir dari sebuah media yang terkemuka di Republik ini, dunia pergerakan mengalami mati suri. Mati suri dan kehilangan reorientasi, reorientasi kenapa aksi harus dilakukan lagi, atau kesenangan akan kedekatan dengan dunia publik dan dunia media. Sehingga muncullah sindroma baru pergerakan saya menamainya dengan Unreal mirror. Kesenangan sesaat karena dipuji dan bangga karena ia adalah satu diantara sepuluh mahasiswa yang masih sadar akan perannya sebagai agen of change. Tetapi ketika kita dibenturkan pada keadaan apa yang paling efisien untuk ‘mengitik-itik’ kuasa pemerintahan lagi-lagi yang naik ke permukaan adalah kecerdasan inteluaktual. Secara hierarkinya pergerakan mahasiswa ( saya menyebutnya bukan dari aspek dakwah ) adalah dikuasai kaum cendikiawan katakanlah Soekarno, keudian rezim militerisme yakni zone soeharto, kemudian kaum intelektual yakni para mahasiswa penuntut reformasi, diperkirakan tahun selanjutnya adalah pergerakan pemuda yang berasal dari kaum pengusaha hingga akhirnya kembali ke pergerakan pemuda cendikiawan, sebuah mata rantai pergerakan mahasiswa.

Kembali mengadopsi pergerakan dakwah kampus yang diharuskan memasuki ranah siyasi, bukan sekedar kafaah diniyah yang dibutuhkan tetapi kemampuan lain diluar spesifikasinya. Sehingga untuk m emudahkan peta gerakan dakwah ini, memang perlu rancangan konstuktif yang produktif tanpa meninggalkan esensinya sebagai figur dalam dunia kampus.

Dekotomi ilmu yang muncul karena pemahaman yang tidak begitu sempurna mulai perlahan namun pasti harus dikikis dari semula. Tentu saja dengan cara yang bertahap dan berkesinambungan, yanpa meninggalkan paten kebertahapan yang hasilnya layak untuk dipertangung jawabkan. Uhh.. tulisan ini lama kelamaan kok mulai harokers banget …

Pergerakan dakwah kampus dibutuhkan seorang yang cerdas bukan hanya dewasa, karena cerdas bisa mendasari seseorang untuk terus melakukan manuver manuver dan inovasui dalam perubahan kombinasi tata letak perjuangan peta dakwah ini. So masih semangatkah engkau di dunia kampus ini, mau menjadi mahasiswa biasa atau mahasiswa luar biasa, sekali lagi itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Kembalikan pada penghambaanmu sebagai hambaNya, mau berproses menjadi lebih baik suatu pilihan yang layak untuk diperjuangkan.