February 2006

Hal na’rif al-’alam ?

Untuk belajar lebih jauh tentang alam, mari kita menengok sejenak surat al-Fatihah ayat 2 : ” Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin”. Penulis tdk akan artikan ayat tsb karna penulis yakin klo pembaca tdk ada yg tdk tau arti dr ayat tsb. Sekarang qta fokuskan perhatian qta pada lafadh “‘aalamiin”. Lafadz “‘aalamiin” pd ayat tsb berbentuk jama’ (plural) yg berarti “seluruh alam”. Jadi ternyata alam berjumlah banyak, salah satunya adalah jagad raya yg qta tempati ini. Dari sepengetahuan penulis, alam itu diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu Alam ‘MULKU’ (alam nyata) dan Alam ‘MALAKUT’ (alam goib). Dan Alam ‘MALAKUT’ ini jumlahnya relatif lebih banyak dr pd Alam ‘MULKU’. Coba qta bayangkan, alam semesta yg qta anggap maha luas (diperkirakan baru 10 %-nya yg diteliti oleh ilmuan)ini adalah salah-satu dr beribu-ribu, berjuta-juta (atau bahkan lebih dr itu) alam ciptaan Allah. Lalu seberapa kecil qta ? dan seberapa ilmu qta? itu yg harus qta renungi.

oleh hamba-Nya

Pergerakan Mahasiswa di Persimpangan Jalan

Berbicara tentang pergerakan, lumayan berat. Mungkin back ground saya yang kurang mendukung tentang ini :D, but its okey i wanna try. Sekitar 2 tahun yang lalu, kaki tergerak untuk menyelami dunia pergerakan, mulai dari blank, saya menyebutnya ngeblank group. Ya, ada sisi menarik disana, temukan suasana baru kharisma baru tentang Syumulatul Islam . Syumulatul Islam, konsep pemikiran yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, kalau dulu Ustadz saya di Solo, menyebutnya memang aturan islam itu menyeluruh mulai dari bangun tidur ampe mau tidur sudah diatur, begitu kata beliau.
Yup, Islam memang syumul. Dan setahun yang lalu, syumul dalam pikiran saya mulai terdefinisi pengertian baru yakni Islam mengatur segala sendi kehidupan ummat mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya dan hingga untuk mengatur pemerintahan. Islam yang syumul, islam yang logis dan Islam yang fleksibel. Sehingga yang disebut akivitas religius, bukan hanya saat kita sholat, puasa, i’tikaf, tadarus dan amalan-amalan ma’dhoh lainnya. Tetapi dalam membentuk peradaban, membentuk sistem pemerintahan, dan membentuk agenda kegiatan, Nilai-nilai Islam harus teraplikasi disana.

Nah, sehingga untuk kegiatan mahasiswa yang sangat banyak, dan bisa dikatakan bukan event-event yang kecil. Akan mempunyai nilai andil yang besar dalam mengaplikasikan dan menyublimkan ide pemikiran besar nilai-nilai Islam.
Percaya tidak, gara-gara dulu saya mengikuti acara ” Training ” yang disana panitianya ikhwan dan akhwat semua, saya kembali menemukan komunitas yang sama dengan komunitas saya di Solo dulu. Yang ada adalah rasa bangga dan senag bisa berkumpul dengan mereka. Boleh jadi itulah yang membuat temen-temen pergerakan semakin kuat langkahnya untuk bergerak di jalan penerapan aplikasi nilai-nilai Islam ini.

Pertanyaan saya kemudian muncul apa yang mendasari pergerakan ini tetap ada?. Sekedar jargon, atau sebuah agenda yang memang diagendakan bersama. Tak lama ini pertanyaan saya terjawab, Pergerakan dakwah kampus yang idealis tapi realitas. Bergerak bersama tuntaskan perubahan. Memulainya tidak mudah, melaksanakannya tidak mudah dan bahkan untuk mengakhirinya sangat tidak mudah.

Aksi, mungkin itu yang terbersit di mata masyarakat sebagai bentuk representasi mahasiswa terhadap permasalahan yang terjadi pada rakyat dan bangsa ini. Sejak gulinnya rezim Soeharto, pemuda lebih mengetahui eksensi perannya dalam ranah ” pemantau ” keadaan politik yang terjadi pada pemerintahannya.. Dirasakan pula, sekarang ini aksi-aksi tadi hanya bersifat “foya-foya” dan kesenangan akan “dunia hiburan” dan parahnya ada sebagian yang melakukannya sebagai “rasa berekspresi” bisa jungkir balik kesankemari.

Seperti dilansir dari sebuah media yang terkemuka di Republik ini, dunia pergerakan mengalami mati suri. Mati suri dan kehilangan reorientasi, reorientasi kenapa aksi harus dilakukan lagi, atau kesenangan akan kedekatan dengan dunia publik dan dunia media. Sehingga muncullah sindroma baru pergerakan saya menamainya dengan Unreal mirror. Kesenangan sesaat karena dipuji dan bangga karena ia adalah satu diantara sepuluh mahasiswa yang masih sadar akan perannya sebagai agen of change. Tetapi ketika kita dibenturkan pada keadaan apa yang paling efisien untuk ‘mengitik-itik’ kuasa pemerintahan lagi-lagi yang naik ke permukaan adalah kecerdasan inteluaktual. Secara hierarkinya pergerakan mahasiswa ( saya menyebutnya bukan dari aspek dakwah ) adalah dikuasai kaum cendikiawan katakanlah Soekarno, keudian rezim militerisme yakni zone soeharto, kemudian kaum intelektual yakni para mahasiswa penuntut reformasi, diperkirakan tahun selanjutnya adalah pergerakan pemuda yang berasal dari kaum pengusaha hingga akhirnya kembali ke pergerakan pemuda cendikiawan, sebuah mata rantai pergerakan mahasiswa.

Kembali mengadopsi pergerakan dakwah kampus yang diharuskan memasuki ranah siyasi, bukan sekedar kafaah diniyah yang dibutuhkan tetapi kemampuan lain diluar spesifikasinya. Sehingga untuk m emudahkan peta gerakan dakwah ini, memang perlu rancangan konstuktif yang produktif tanpa meninggalkan esensinya sebagai figur dalam dunia kampus.

Dekotomi ilmu yang muncul karena pemahaman yang tidak begitu sempurna mulai perlahan namun pasti harus dikikis dari semula. Tentu saja dengan cara yang bertahap dan berkesinambungan, yanpa meninggalkan paten kebertahapan yang hasilnya layak untuk dipertangung jawabkan. Uhh.. tulisan ini lama kelamaan kok mulai harokers banget …

Pergerakan dakwah kampus dibutuhkan seorang yang cerdas bukan hanya dewasa, karena cerdas bisa mendasari seseorang untuk terus melakukan manuver manuver dan inovasui dalam perubahan kombinasi tata letak perjuangan peta dakwah ini. So masih semangatkah engkau di dunia kampus ini, mau menjadi mahasiswa biasa atau mahasiswa luar biasa, sekali lagi itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Kembalikan pada penghambaanmu sebagai hambaNya, mau berproses menjadi lebih baik suatu pilihan yang layak untuk diperjuangkan.

Rihlatul Yogya-Jakarta-Bogor

18 januari 2006

Bimbang, 5 jam lagi langkah kaki ini sudah harus ada di peron kereta. Tetapi kegalauan mengapa masih tetap ada. Tentang sms ” Masih Ngeyelan ?” masih tergiang, dengan adab syar’i yang selama ini saya pelajari, ” uughh safar, batinku” dan tentang pemberian izin yang berbelit dari ortu. Tapi ada amanah lain yang lebih memberatkan daripada alasan itu semua. Memang, kalau sudah bicara tentang ’amanah’ otak ini tak bisa lama-lama berpikir.

15.00 WIB: ” Yang akhwat, cepetan duluan….” kata pake’ sekjend. Melangkah ke peron…dengan hati masih gusar, untung ada mbake’ kenalan baru di bis, ngobrolnya nyambung banget.. jadi kegelisahan mulai menghilang…

16.00 WIB ;” De’ itu temennya udah turun… ’ kata mbake’ menyadarkanku dari obrolan tadi, yang lumayan mengagetkanku. ” mmm.. nyaris kebablasan!!! ” pake’ ketawa, yang lainpun ikut ketawa..

17.00 WIB :” Aris, neng ngendi ” kata ranger kepada pake’. Panik. Ketinggalan satu sosok mas’ul BKK. Pake’ berlari mengelilingi peron, mencari sosok aris di kereta sebelah. Yang dicari ternyata sudah tersenyum didepan kami, ….” mm… syukurlah ” Bisik para akhwat.

19.00-21.00 WIB.. Stress berat, ada pasar di AGRO. ’ Kopi…kopi.. panas.panas… indomie.. indomie…. waduuh.. ga yakin bisa tidur. ” Perjalanan ini sangat sulit sekali, tidak bisa dibayarkan dengan syariah yang kau langgar, so tancapkan nafas konsep perubahan” bisik si hati kecil.

22.00-02.00 WIB Ngantuk berat, disamping turnline da ranger ma pake’, berkata pake” Mel,.. oyo turu, sesok ngantuk lho,.. isih banyak agenda.. !!” Balasku mencibir dalam hati… wong ga bisa tidur kiy… ” ringtone khas ceria berdering ” Gimn perjalannanya lancar?” Untung ada sms niy,.. jadi bisa ngutak-atik HP. Sms yang kedua ” … awas banyak bencong” wagh… ketawa,ga jadi BT, walau kurang dari1 jam bisa tidur, lumayan..

03.00-05.00 WIB : Sampe di jakarta ” Jakarta, Im coming… ” Kata aris,.. norak ga sih! PH akhwat sepleton ada 5 org, ikhwan 6 org. The Big Boss pleton kedua ma kompi akhwat 2 orang.

19 januari 2006

05.30-07.00 WIB: Pengemis tua dengan kaki palsu yang dilepas, di pinggir mushola tempat kami sholat. Beberapa menit kemudian kaki palsunya hilang, marah, caci, umpatan, ada dimana-mana, sumpek telinga ini mendengarnya, Malah ada yang bilang ” ga usah ditolong mbak, paling diumpetin temen sendiri, itu taktik aje..!”

eh ternyata kaki palsunya diumpetin orang di atas pohon. Duh.. Teganya… !!! ” jakarta ganas!! Bisik si hati kecil, hati trus bersyukur Solo, I Love U. Baru menyadari ternyata setelah terpisah dengan jarak jauh ada cinta yang besar disana. Ini Ibroh yang pertama, jangan sia-siakan temenmu, bila engkau jauh darinya baru sadar bahwa perpisahan itu tidak mengenakkan dan ternyata engkau sangat membutuhkannya.

07.00-09.30. Arsyik Home

Subhanalloh abinya, semoga cepet menular degh…

09.30- 14.30 Sabili Zone

Ibroh ke-2 harus ada penggerak dakwah dalam di MIPA, karena potensi kader MIPA sangat realistis dan logis berkembangnya dakwah, dimana-mana pesantern univ adalah MIPA. Ibroh ke-3 Semangat bisa mengubah segalanya, kaderisasi pers banting tulang mulai sekarang.Ibroh ke-4 butuh keberanian untuk menyuarakan kebenaran, sekalipun penuh teror

. 15.00-17.30 UI Zone

Jujur, penyambutan tak semeriah yang diharapkan, peace!.LDF MIPA disana bernama MII juga, tapi bukan Media Informasi Islam seperti MIPA UGM tapi Mushola Izzatul Islam Secara global kacamata saya menilainya, internal yang bagus, rapi tertata, pembagian wilayah kerja dakwah yang jelas, Dan ada sistem magang disana diperuntukkan utuk maba semester 1 yang sebelumnya diarahkan untuk mengikuti mentoring dan penjenjangana AMMII ( Angkatan Muda MII) dan ALMII ( Angkatan Lama MII )

Pembagian AMMII dan ALMII ini berdasarkan keaktifan kader dalam sistem magang, dan sistem magang ini boleh dioverlaping dari ranah BEM.( red: di UI namanya SEMA <senat mahasiswa>) ke ranah MII, atau HimProd. Selain ada penjenjangan lagi disana sistem kaderisasi pengurus dan kaderisasi seluruh kader di urusi oleh MII semua, hanya bedanya ada departemen bidang dalam MII. Kaderisasi pengurus diampu oleh Dept PSDM , sedangkan kaderisasi mentoring dan mahasiswa ammah diampu oleh KARISMA dan A2I dibawah departemen BKKBN. Disana ada presentase masih masing LDF, dengan OHP, presentasi KMFM keren coy … !! salut buwat pake’ coz yg bikin beliau. Media yang bergerak disana ada Dusturuna, pengganti majalah Al-Izzah yang pemasarannya sudah masuk ke sektor nasional, sehingga Al-Izzah ini sudah dilepas sendiri terpisah dari LDF MII seperti halnya Nasyid terkenal yang terlahir dari sini Izzatul Islam.

Bedanya lagi struktur kepengurusan yang kereen abiz, salut degh ma temen-temen seperjuangan MII UI, tapi MIPA UGM belum bisa diarahkan kesana, saya yakin akan banyak pertimbangan disana, dari sistem kaderisasi yang sudah ada mesin screening maba yg bagus dan alur kaderisasi yang jelas. Ga saklek kadernya tapi harokers banget, this it my favorit, kereen,… !! sempet PD juga, ternyata kebanyakan kadernya kayak saya, humoris, ga saklek, pinter ngomong, plus ngomongnya cepet, tapi heran juga ma temen2 akhwat yang lain.

Fatwa kadept Syiar MII berkata ” wagh.. saya salut ma temen2 UGM, memilih hari yang tepat kunjungan hari senin, pada puasa khan … ??” disertai senyumnya yang sok lugu .. kayaknya si Ika ga enjoy bgt,

” koq, ga ada snacknya, padahal udah mo pingsan niy..” Senyum kecil kuberikan padanya. Ibroh ke-5.dibutuhkan seorang kader yang berkapasitas tinggi dan cerdas untuk mensukseskan kerja dakwah di berbagai sektor, tak terkecuali sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil yang diperjuangkan secara bertahap dan berkesinambungan.

Ibroh ke-6 Disana mereka bergerak, kitapun juga, ternyata dakwah disokong di berbagai penjuru dunia, umur dakwah sangat mempengaruhi kerja dakwah kedepan. Akhirnya diakhiri dengan jalan-jalan keliling UI, dan foto-foto, da sesuatu agenda yang terlupakan,. Yo wis memang ga diridhoi, rencananya mo ketemu ma temen di MUI ( maskampnya UI ) tapi ga kesampaian… HP ngedrop.

17.30-19.00 WIB : Arsyik Home – Perjalanan ke Bogor.. dingin- dingin..

20.00-21.00 Ian Home

Ketemu kiki dan rini.. si kiki gendut juga yak.. tapi cakep lho.. ups.. !! nih adek mas’ul MII. Ketemu juga ma abinya.. subhanalloh .. tapi anaknya ….husshh !! peace, pembaca .. !pak Ian ga pernah pulang tuh kasihan ma abinya bilang ” ma..anakmu ga pulang lagi niih …” ngeres juga ngedengernya pak .. oey pak kasihan tuh sering pulang kampung donk,,,, !!! @_@ yagh.. ibroh yang ke-7 keluarga pembentuk kepribadian sejati, so hati-hati sebelum membentuk keluarga hikmahnya sama juga pas di rumah Arsyik si ikan emas yang dipepes .. hehe ..

21.00-23.00 Ika’sister Home gilee.. gedhe kali rumahnya megah oey… ketemu si ulhaq, ABG abis … yg akhwat mabit disini, sedang yang ikhwan mabit ditempat tetet, sempet beradu argumen nih pake’ ma pak Ian,.. sesama ranger koq bertarung yak !! ga tahu tuh tentang apa, hasil diskusi akhirnya ikhwan ke t4 tetet.

01.00 WIB Cerita dan bobok terlelap degh

20 Januari 2006

06.00-07.00 makan dan jemputan mobil datang, pak Ian jadi body guardnya. Pak sopir juga … nunggu yg ikhwan lamanya… di perempatan Bogor ” ya sudah kita ketemuan nanti aja di Masjid Raya Bogor ” kata Pak Ian kepada pleton ikhwan.

08.00-09.00 Masjid Raya Bogor, ada nikahan disana, ada pengantinnya jga, mau ikut foto yuuk … kata Wulan … ’ Uuhh, norak abiz ..” bisikku. Pleton Ikhwan mana? Ga muncul-muncul, masih di sergap musuh kali.

” Kita tinggal aja yak.. ketemuan di IPB langsung” kata pak Ian lagi.. yo wis manut…

09.00-13.30 IPB Zone

Sangat menarik sekali sambutannya, tapi pleton akhwat ada yg hilang, katanya di MIPA IPB egh kita masih jalan ke Mushola Al Hurriyah, jauh juga siih, jalan dulu kesana, disana presentasi lagi pake’ aksi lagi.

Tapi ga semeriah di UI, coz persiapannya kurang, kesan disana pertama kali saklek, pendiem abiz orangnya, jadi ga berani ngomong, disana ketemu mas’ul akhwat kaderisasi, bincang2 langsung.

Pergerakan dakwah disini kurang begitu bagus, tapi mereka tetep semangat lho… LDF disini namanya SERUM G. BSO dari BEM baru tahun ini, jadi ibarat bayi masih dalam bentuk janin, rival-rival dakwah disini cukup kuat dengan kondisi internal yang belum bisa disebut kuat, UGM patut berbangga hati. Struktur Kepengurusanpun sangat berbeda dengan KMFM dan MII, disana belum media infomasi baru sedang mau dirilis. Disana karena sistem perkuliahan yang sangat berbeda dengan universitas pada umumnya, maka sistem kaderisasi dan screening awal maba sangat berbeda. Di Tahun pertama, belum ada penjurusan dan mereka diharuskan untuk tinggal di TPB ( Tempat Pembelajaran Bersama ) yang mempunyai LDF dan BEM sendiri, bayankan mereka harus belajar sendiri membuat struktur dan berorganisasi untuk sekali kepengurusan, tentu saja ada sistem mentoring juga di perhitungkan juga, disana sistem mentoring ini dipegang dari pusat universitas jadi tidak per fakultas.

Kalau menurut kacamata saya disana kader dakwah lumayan banyak, qowy juga, pas kesana ada tes wawancara pemandu-pemandu A2I tahu ga, testnya apa risalah pergerakan bow.. kereen abiz tho? Dari segi kafaah haroky kayaknya mereka sudah lumayan kuat koq… So semangat My Bro and My sist 4JJI together with u. Habis itu kita kita foto-foto, jalan-jalan juga di sekeliling Al Hurriyah, artinya bukan angin topan ( hurrican ) tapi pembebasan bagi ikhwan kemaren yang sempet nanya tapi belum kejawab.

14.00-16.00 Perjalanan ke tempat de fay home,..wagh. pak sopirnya ’keblusuk-blusuk’ melulu, yang mobil ikhwan ninggal mobil akhwat so kita kebingungan degh. Alhasil sms-an melulu, untuk menuntun akhwat ke jalan yang benar hehhe… Setelah muter-muter nyampe juga
Saya paling seneng, karena bisa ketawa mulu, tuan rumahnya lucu banget siih. n_n imeel bangeet..!!. mamanya de fay, sumeh abis… dan ternyata papinya de’ fay seorang penulis terkenal Saefuddin Aman banyak menelurkan karya besar. Ehm.. Salut degh..!!. Jadi ngefans ma beliau. Imel diberi buku 3 bagus-bagus banget. Akhirnya cuma berharap de fay seperti ayahnya. Ibroh yang ke-8, Keluarga yang harmonis akan melahirkan seorang anak yang luas berpikir dan senang membahagiakan orang lain
Akhirnya sekompi semua mabit dirumah de’ Fay. Malamnya kita syuro evaluasi kunjungan, perdebatan sengit terjadi ketika acara tukar kado dimulai, tapi saya lagi males ngomong, hati baru seneng ga mau debat degh..n_n. Pake’ sekjend masih ngotot, ma bu Ika. Akhirnya ga jadi tukar kado. Saya malah meninggalkan syro perdebatan itu, memabaca koleksi buku keluarga Fieq Faiq. Syuro’ perdebatan itu berakhir, dan akhirnya dilanjtkan dengan isi testi. Kacau..temen-temen ikhwan pada kasih testi imel diluar perkiraan sebelumnya tapi lucu juga, sempet ketawa, sebel dan semangat dibuatnya. Ibroh yang ke-9 Diri kita menurut saudara kita, belum tentu sama dengan persepsi diri sendiri, tiada henti muhasabah sepanjang hari.
Menikmati malam diwali dengan tilawah, melepas semua kepenatan dan kelelahan sepanjang hari ini, sesekali terdengar tawa dari wilayah ikhwan.
21 Januari 2006
06.00-08.00 Sarapan, dan perjalanan menuju UNJ ditemani mobil de fay dan ayahnya, sempet ngobrol dan bercanda kecil dengan beliau sambil jadi fotografer amatiran, dengan obyek WTC jakarte n_n, gunung pencakar langit ma patung-patung yang bagus sebagai obyek foto, persis hari sebelumnya motret dari mobil. Sampai di UNJ, tak lupa minta kenang-kenagan tanda pena dari Pak Saefudin, sambil minta foto juga de fay beserta ayahnya, Ehm.. klo saya wartwati pasti degh tak taruh sebagai halaman depan, tapi sayang saya hanya seorang Imel.
08.00-13.00 UNJ Zone
Berbeda dengan LDF lainnya di UNJ ini, LDF terfokus pada sebuah masjid dengan beberapa pengelola didalamya, dengan nama MUA ( Mushola Ulul Abshor ), dan uniknya Mushola ini dijadikan sebagai center of dakwah. Ada TK juga disana, yang ngurusin masalah pendidikan anak-anak. Juga ada kegiatan yang melibatkan umahat, karena background UNJ yang deket dengan masyarakat, beda sekali dengan KMFM. MUA ini terdiri dari 7 departemen, salut… ! disana kondisi internal dakwah sangat kuat, sama dengan MII. Ada departemen kemuslimahan, syiar, media, TK, kewirausahaan, PSDM dan Minat bakat.
Subhanalloh, disana dakwah-pun sudah diakui mahasiswa ammah, ketua BEM pun tidak menjadi mengapa dimbilkan dari anak mushola bahkan beliau adalah sekjendnya MUA, kereen khan… !!. Tapi setelah saya tanyakan dari mbak yang ngurusi kaderisasi ternyata walaupun beliau anak mushola tapi mengikuti agenda kaderisasi BEM dan MUA. Disana kami disambut sangat meriah, ikhwah disana memakai baju batik semua, jogya banget. Disana ternyata juga didukung dari pihak dekanat, subhanalloh keren tenan.. !Kapan Mipa bisa seperti ini ya.. semoga secepatnya.. amien.. Ada prokernya yang saya sangat tertarik ada proker ikhwah market, ya kayak supermarket gitu di samping mushola, dan MENTARI cell, kegiatan mentoringnya.. Ada juga kegiatan kewirausahaan yang memperjualbelikan pulsa dengan nama ToneCell. Keren ya…!. Ibroh yang ke-10 Dakwah akan menampakkan ronanya, dikemas dengan kemasan yang komunikatif, modern dan plural.
Akhirnya kami jalan-jalan sebentar, karena diskusi dan presentasinya berjalan searah di tempat ikhwan saja, maka temen-temen akhwat memutuskan untuk sharing sesama akhwat saja, menarik, tambah ilmu banyak. Pada akhirnya kami foto bareng, ada kejadian yang lucu juga, waktu itu memakai came digital, yang make akhwat MUA, mengambil foto kami, nah sudah berpose anggun, egh pas dilihat hasil jepretan fotonya mata yang memfoto, ternyata tadi pas memotret kebalik.. halah.. n_n
13.00-18.00 Istiqlal Zone-Monas Zone-Perjalanan Zone
Perjalanan ke Istiqlal, samping pak sopir ranger hitam, pak eko. Kita jadi fotografer amatiran lagi, ”itu pak, kayaknya bagus degh” kata imel,” Halah, ga bernilai seni ” Balas pak eko. Memang jiwa seni kami berbeda n_n. Sampai di Istiqlal, Isse sakit, kami mengukuhkannya. Dan temen-temen mengukuhkan juga, mata Imel melihat fenomena lain, masak didepan Istiqlal ada kategral yang tak kalah megah juga, aneh…! batin si hati kecil. Pleton akhwat tinggal di bawah, pleton ikhwan tak tahu rimbanya. Tapi berbeda si Imel dengan camenya, tak mau melewatkan this event, setiap sudut istiqlal kena jebret. Nurani hati ini berbicara, semoga ini bukan hanya kemegahan masjid, tapi diimbangi kualitas ummat yang megah juga. Ibroh ke-11 Kemegahan fisik sangat menyenangkan tapi kemegahan hati karena budi pekerti lebih menyenangkan.
Pleton ikhwan ke Monas, pleton akhwat ga mau kesana. Yah. Terlewatkan… perjalanan pulang nganter Ira PH KMFM ke Bandara, pak sopir kena penyakit bingung lagi, tapi sampai juga bandara Soekarno-Hatta, saya sempat takjum ada bangunan megah bergaya persia dengan nama ”Masjid Ikhwanul Muslimin” keren yak!! n_n kelihatan nih klo ga pernah ke Jakarta. Di Bandara seperti biasa suasana bandara yang rame dengan orang yang membawa barang, otak iseng saya sempet membayangkan peristiwa hijrahnya rosululloh. Sangat diperlukan persiapan yang terkoordinir dan rapi. Ibroh ke -12 Untuk melakukan perjalanan yang sangat panjang, dibutuhkan sebuah perencanaan dan persiapan yang matang dalam segala hal. Dari bandara, kami ke rumah Arsyik lagi, dan bersiap pulang ke yogya. Semoga perjalanan ini akan sangat bermakna. Dan membawa perubahan yang berarti bagi kemajuan dakwah di Mipa, Allohu Akbar!

Teropong Kedewasaan (bag 2)

Tidak sadar atau bahkan lalai akan penciptaannya, manusia kini telah menjadi sesosok jiwa yang disegani diseantero alam semesta. Berbagai fase pembentukan dirinya telah ia lewati dengan mantap. Seperti yang dinukilkan dalam salah satu hadist Arbain An-nawawi yang ke-4 tentang asal-usul manusia.

Abu Abdurrahman Abdullah Bin Mas’ud berkata :” Bahwa Rasululloh saw telah bersabda dan beliaulah yang selalu benar dan yang dibenarkan.

“ Sesungguhnya tiap ornag diantara kamu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya) di dalam rahim ibunya dalam 40 hari berupa nutfah kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari, kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama iu juga, kemudian diutuskan kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh padanya dan diperintahkan (untuk menulis) 4 perkara : 1. Ditentukan rejekinya, 2. Ajalnya 3. Amalnya (pekerjaannya), 4. Ia celaka atau bahagia.”

Tahap pembentukan manusia yang lumayan kompleks untuk menjadi sesosok bayi dan penerus peradapan. Beranjak dewasa menjadi sebuah jiwa yang peka sosial, pencetak peradaban, dan bahkan sebaliknya perusak peradaban dan sampah masyarakat. Dewasa, dimaknai dengan 2 makna, dewasa jasadi dan dewasa aqli. Dewasa jasadi menitikberatkan pada kedewasaan usia, sedangkan dewasa aqli lebih dititikberatkan pada kedewasaan berpikir.

Kata orang, dewasa adalah suatu pilihan. Apakah ini mutlak benar. Ketika seseorang memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang yang dewasa,akhirnya ia harus melihat konsekuensi yang akan dihadapinya.

Dewasa, unreal variabel dalam pemaknaan tiap orang tidak bisa diukur tingkat kedewasaannya berdasarkan satu sudut pandang saja. Dari serentetan peristiwa yang ia alami selama sehari besamanya, bukan tolak ukur kedewasaan seseorang.

Sekali lagi kedewasaan sangatlah nisbi ukurannya. Sebenernya tolak ukur kedewasaan lebih dititik beratkan pada bagaimana seseorang lihai menghadapi permasalahan hidup, tentu saja dengan gaya pemikiran yang khas dan bijak. Kadang, dewasa salah diartikan sebagai sedikitnya sikap seseorang yang tenang, diam, dan tenggelam. Berkaca dari kalimat tersebut, bagaimana ia sikap dewasa itu berada pada seseorang yang mempunyai temperamen aktif dan ceria. Tentu saja itu tidaklah benar adanya. Sesorang yang mempunyai sikap kekanak-kanakan misalnya sering lonjak-lonjak belum tentu orang itu tidak dewasa. Boleh jadi, ia lebih dewasa menyikapi masalah daripada orang yang pendiam dan nonaktif person. Sulit memang, mendeteksinya.

” Kemaren hari milad anty ya?, terus mengingat semakin bertambah usia sementara dosa masih menggunung, tambah dewasa ya Mel….”

Begitulah sms dari seorang sahabat. Ya, tepat sekali semoga tambah dewasa, selalu ada untuk setiap ucapan selamat hari ulang tahun, entah siapa yang memulai tapi memang begitulah kenyataanya. Sepertinya kedewasaan seseorang sangat krusial dalam kehidupan seseorang, selalu seperti inikah?

Terkadang saya keheranan sendiri dengan sikap seorang sahabat lagi, ketika temen lain tidak seide dengan dia berbagai argumen akan dilontarkan dan dihunuskan kepada orang tersebut, dan apakah ini sikap yang dewasa? Atau ketika di suatu pedesaan yang terjadi sengketa tanah dengan pihak pemerintah, masyarakat disana lebih memilih untuk melakukan’pendudukan’areal tanah dengan menghalangi setiap titik pusat jalan yang menuju wilayah itu, apakah ini juga masyarakat yang dewasa?

Banyak ternyata definisi ’dewasa’ ini, mungkin sangat kompleks hingga timbul definisi baru, dewasa tidak tergantung usia. Ya, saya sepenuhnya sangat setuju dengan ini. Ada juga cara untuk meng-upgrade kedewasaan seseorang, seperti di lansir dari pendapat Ika seorang pelajar SMU mengatakan bahwa, ” Berteman dan saling berbagi dengan orang lain membuat saya semakin dewasa menyikapi hidup”. Berbeda lagi, dengan Roy pelajar SMU yang sama, ” Menurut saya, dewasa adalah kita bijak dalam segala permasalahan, klo sekarang ya pacar-lah yang membuat saya dewasa ”. Ups, pacaran !!!???. Wahyu, mahasiswa Kimia UGM juga turut andil dalam pembicaraan ini menambahkan ” Berorganisasi akan bisa menambah pola kedewasaan kita.”

Terlepas dari melihat potret remaja kita, dewasa diperlukan proses, dan proses akan lebih cepat terjadi jika interaksi dan komunikasi dengan orang lain. Seperti yang dikatakan wahyu, berorganisasi sebagai alternatif yang paling efisien, karena disini ia akan berproses mengelola emosi, ketenangan berpikir, dan serentetan manfaat yang lain. Dewasa butuh proses.

Dewasa adalah pilihan, sedang tua adalah kepastian, tapi yakinlah kedewasaan adalah kebutuhan, bukan paksaan dan keharusan. Jalani saja hidup ini, memaksakan diri berperilaku dewasa sangat tidak mengenakkan, tapi apa harus ditinggalkan. Nikmati saja hidup ini… jangan dipaksa kalau memang tidak bisa, tetapi untuk sebuah kebutuhan harus ada pemaksaan disana jika ingin kebutuhan itu cepat terpenuhi. Teringta, akan tausiyah pak Basuki Abdurrahman kemaren pas acara mabit refleksi tahun baru 1 Muharram 1427 H, sebuah beban harus bisa dikondisikan menjadi kewajiban, kewajiban harus bisa dikondisikan sebagai kebutuhan, kebutuhan bisa dikondisikan sebagai kesyukuran, dan kesyukuran harus bisa dikondisikan menjadi sebuah kecintaan. Dan kecintaan akan melahirkan sesuatu kenyamanan.

So Teropong kedewasaan sangat perlu kita ciptakan, lewat berbagai diskusi dan komunikasi. Pastikan diri kita melangkah menjadi lebih dewasa tanpa lupa dengan koridor yang ada, Qur’an dan Sunnah.